Peran literasi keuangan sebagai dasar pembentukan finansial yang sehat bagi peserta didik

489

Tulisan bagian pertama, dalam rangka menyambut peluncuan Panduan Literasi Finansial dari Pusat Kurikulum Pembelajaran Kemendikbudristek.

Mengapa literasi keuangan sejak dini sangat krusial dalam membentuk masa depan finansial yang sehat bagi peserta didik?

Literasi Keuangan menurut OJK adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan untuk mencapai kesejahteraan keuangan masyarakat.

Survei OJK secara berkala menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda, yang memiliki pemahaman yang terbatas tentang pengelolaan keuangan. Kita jumpai anak muda yang terjerat pinjaman online ataupun judi online. Hal ini antara lain karena dipicu gaya hidup ataupun pengelolaan keuangan yang tidak tepat.

Namun demikian apakah dengan memiliki pengetahuan literasi keuangan secara otomatis akan membuat orang menjadi bisa mengatur keuangannya dengan baik?. Kenyataannya banyak orang yang sudah belajar tentang bagaimana mengatur keuangan namun dalam kesehariannya tetap melakukan hal yang tidak menuju ke kesejahteraan dirinya? Literasi finansial bukan sekedar pengetahuan dan keterampilan tetapi juga tentang keyakinan.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keuangan:

Faktor internal (keyakinan, pengalaman masa lalu)

Pengalaman masa lalu sangat memengaruhi keyakinan seseorang terhadap uang. Misalkan dia pernah mengalami peristiwa kehidupan penting terkait dengan uang yang memiliki dampak emosional yang berkelanjutan hingga dewasa. Yang bersangkutan mengalami keadaan yang traumatis sehingga tanpa disadari memengaruhi keyakinan dan perilakunya tentang uang. Masa kecil dengan berbagai pengalaman yang dihadapi sangat menentukan bagaimana keyakinan seseorang terhadap uang.

Kontz Money Script Inventory dikembangkan pada tahun 2011 untuk mengidentifikasi keyakinan akan uang. Dia mengelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu menghindari uang, memuja uang, status sosial karena uang, terlalu hati-hati terhadap uang (takut kehilangan uang). Apabila keyakinan ini diturunkan dari generasi ke generasi akan menyebabkan kebiasaan keuangan, baik ataupun buruk.

Mengubah keyakinan yang telah tertanam dalam diri, bagaimanapun, bisa sulit, terutama jika keyakinan tersebut terkait dengan emosi yang kuat. Oleh karena itu mengajarkan tentang mengatur uang sejak dini dengan benar, akan membentuk keyakinan pada individu tentang uang yang selanjutnya akan memengaruhi sikap dan perilakuknya.

Faktor eksternal (lingkungan keluarga, teman sebaya, kondisi ekonomi)

Secara naluri, manusia memiliki kecenderungan untuk mengikuti kelompoknya. Kebiasaan yang ada di kelompoknya, baik keluarga, teman ataupun lingkungan di sekitarnya, akan memengaruhi sikap dan perilaku keuangan. Kita kenal istilah FOMO (Fear of Missing Out) yaitu perasaan cemas bahwa kita akan melewatkan sesuatu yang menyenangkan atau menguntungkan jika tidak ikut serta.

Dalam konteks uang, FOMO dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak rasional karena mengikuti apa yang dilakukan kelompoknya.

Ada lagi istilah FOPO (Fear of Other People’s Opinion), yaitu ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain. Dalam konteks keuangan, FOPO dapat mendorong kita untuk membuat keputusan finansial yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau kemampuan kita.
Keyakinan yang benar tentang uang dan pengelolaan uang sejak dini akan memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan untuk mencapai kesejahteraan keuangan di masa depannya.

Penulis: Ita Guntari, MM, CFP®, Pendiri PKBM Insan Cerdas Indonesia yang juga berprofesi sebagai Financial Educator.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here